Manchester – Manchester City tahu rasanya kalah di partai final. Maka itu kegetiran itu siap dihapuskan dengan kebahagiaan akhir pekan ini jika Citizens mampu memenangi final Piala Liga Inggris.
Musim lalu di Wembley, City begitu difavoritkan oleh banyak orang ketika di final mereka “hanya” bertemu Wigan Athletic yang saat itu tengah berjuang menghindari degradasi.
Tapi apa mau dinyana akhirnya Wigan lah yang tersenyum di akhir laga ketika gol tunggal Ben Watson menghujam gawang Joe Hart. The Latics pun menjadi juara Piala FA dan City harus puas mengakhiri musim tanpa gelar, yang berujung pemecatan Roberto Mancini.
Kekalahan di bulan Mei itu sampai saat ini masih terekam jelas di benak para pemain City. Salah satunya Samir Nasri yang kembali menelan kekalahan di partai final Piala Liga Inggris, setelah di tahun 2011 bersama Arsenal kalah dari Birmingham.
Kini giliran kapten tim, Vincent Kompany, yang curhat terkait momen pahit yang dirasakan seluruh skuat di Wembley tahun lalu.
“Jauh di dalam pikiranku, aku masih merasakan kekalahan dari Wigan. Jika Anda tahu sejarah City, Anda tidak bisa bilang bahwa mencapai final adalah titik teredah dalam karier Anda. Ini sangat emosional, dan sesuatu yang sangat kupikirkan,” urai Kompany kepada The Sun seperti dikuti Sky Sports.
“Aku belajar banyak dari itu, dan dari hati itu aku sadar bahwa Anda tidak bisa membiarkan rasa lapar itu hilang – dan sejak hari itu rasa lapar itu berlipat-lipat. Ini bukan hal negatif, ini menyemangatiku dan bagusnya kejadian ini membuatku lebih merasa lapar (akan gelar),” sambungnya
Di final musim ini yang dihelat 2 Maret esok, City akan menghadapi Sunderland, lawan yang tak berbeda jauh kondisinya dengan Wigan. The Black Cats tengah berusaha menghindari zona degradasi di mana saat ini ada di posisi ke-18 klasemen.
Kondisi ini membuat Sunderland di posisi underdog dan akan jadi bumerang untuk City jika memandang sebelah mata pasukan Gus Poyet, yang di semifinal menyingkirkan Manchester United.
“Anda harus sadar betapa berharganya itu untuk Anda dan pendukung. Boleh saja bilang “ini cuma Piala FA, atau ini cuma Piala Liga Inggris”, tapi ini benar-benar penting.”
“Tak enak rasanya jika Anda berpikir seperti itu dan lalu Anda tiba-tiba harus kehilangan piala itu.”
“Kami tidak tersinggung jika saat itu memang kami tidak pantas mendapatkannya saat ini. Tapi setelah laga itu, aku sangat-sangat menginginkan trofi itu,” demikian dia.